Perang Setelah Shalat Subuh

Konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) antara pemerintah Indonesia, mereka memang sudah berdamai pada tanggal 15 Agustus 2005. Namum banyak kenangan pahit yang terjadi selama konflik itu terjadi, salah satunya yang terjadi di daerah kami pada tahun 2003, bulan dan tanggal penulis tidak ingat, yang jelas kejadian itu terjadi pada bulan ramadhan. Kajadiannya berupa kontak tembak antara Gerakan Aceh Merdeka dengan serdadu Indonesia.

Menurut ingatan penulis kejadian kontak tembak antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan serdadu Indonesia bermula boncor informasi bahwa puluhan anggota GAM berada di sebuah tempat di dalam kawasan desa Meunasah Mee, Kecamatan Mutiara Pidie. Anggota – anggota GAM tersebut ingin merayakan hari Raya Idul Fitri bersama dengan keluarga mereka. Bocornya informasi tersebut membuat serdadu Indonesia melakukan peryergapan dari segala arah dengan kekuatan ratusan personil serdadu Indonesia di bantu dengan perlatan tempurĀ  modern seperti tank dan lain – lain.

Letusan senjata pertama setelah ceramah subuh di mesjid gampong Jadan, selanjutnya detuman senjata bersahutan. Penulis saat kejadian itu berada di menasah setelah melakukan shalat subuh berjamaah. Tempat kejadian baku tembak dengan tempat tinggal penulis tidaklah jauh hanya di batasi dengan persawahan. Saat kejadian tersebut kami di suruh tiarap di lantai menasah oleh serdadu Indonesia.

Pertempuran hebat terjadi antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terjadi pada pukul hampir 4 jam yang menewaskan 9 anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), salah satunya adalah Syukri yang berasal dari desa penulis. Syukri saat di temukan oleh warga hampir tidak dapat dikenali lagi karena banyak peluru serdadu mengenai tubuhnya. Anggota Gam yang lain ikut tewas dalam baku tembak tersebut yaitu Abu Min. Abu Min merupakan panglima GAM wilayah Bentara Blang, dan anggotanya yang ikut tewas juga bersama Abu Min bernama Fauzi asal Kampong Blang dan lain penulis sudah lupa namanya.

Inilah kisah yang penulis alami saat konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia. Sekarang ini kita semua sudah berdamai dan mari kita rawat perdamaian yang sudah kita raih ini.

Tulisan ini dipublikasikan di aceh dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *