Proses Pengelohan Garam Tradisional di Paru, Aceh, Indonesia

Proses pengelohan garam secara tradisional saya lihat secara langsung di desa Lancang Paru, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, saat saya melakukan survey Program Resilient Aceh. Proses pengelohan garam ini menggunakan alat berupa sekop, sekop dan lain – lain. Pembuatan garam secara tradisional ini banyak di lakukan oleh para kaum perempuan.

Tahap awal pengelohan garam secara tradisional ini, pasir digaruk menggunakan garuk, ada juga yang menggunkan cangkul. Pasir di garuk secara meratadi biarkan di terik mata hari danĀ  agar kadar air garam meresap ke dalam pasir, para petani garam menyebutnyan dengan sebuatan jemur pasir. Pasir ini di jemur setengah hari.

Setelah kadar garam meresap ke dalam pasir, tahap selanjutnya pasir di masukkan ke dalam jantan. Proses memasukkan pasir ke dalam jantan ini membutuhkan tenaga ekstra dan paling banyak menguras tenaga, kata pekerja pengelohan garam secara tradisional.

Setelah jantan di isi dengan pasir yang telah di jemur, tahap selanjutnya berupa memberikan air diatas pasir yang telah ada di dalam jantan. Tujuannya pemberian air agar kadar garam yang ada dalam pasir terus mengalir bersam dengan air. Di sudut jantan sudah disediakan wadah penanpungan air.

Air – air yang sudah mengalir dan terkumpul di penampungan selanjutnya di bawa ke dapur dan di masak hingga menjadi garam.

Air – air yang sudah terisi di dalam penampungan selanjutnya di masukkan wajan untuk di masak. Wajan ini biasa di buat menggunakan bekas drum minyak yang di belah menjadi dua bagian. Proses memasak memakan waktu 6 jam.

Setelah 6 jam di atas tungku garam siap di angkat. Garam – garam yang sudah siap di letakkan di atas karung yang di belah, tujuannya agar air – air yang masih ada dalam garam dapat keluar. Setelah garam benar – benar kering, garam siap dimasukkan ke dalam karung untuk di jual. Garam – garam yang sudah siap biasanya di beli pleh para pengumpul yang datang langsung ke tempat pengelohan garam. Mengenai harganya tergantung kondisi, kalau musim hujan biasanya harganya lumayan mahal, karena tidak ada yang “teumireh“. Teumireh adalah bahasa yang di gunakan untuk menyebut orang yang sedang melakukan proses pengelohan garam secara tradisional di desa Lancang Paru, Kabupaten Pidie Jaya, Indonesia.

Tulisan ini dipublikasikan di aceh, budaya, Indonesia, kuliner, Lingkungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *