Sejarah Pemberontakan PKI di Madium

Setelah perjanjian Renvilee di tandangani pada tanggal 17 Januari 1945 antara negara Republiki Indonesia dengan Belanda. Perjanjian itu berkali – kali di langgar Belanda sehingga sewaktu – waktu antara Indonesia dan Belanda dapat pecah kembali peperangan.

Dalam keadaan yang sangat berbahaya ini, Republik Indonesia juga mengahadapi bahaya dari dalam. Golongan kiri yang di dalangi oleh orang Рorang komunis melakukan kegiatan Рkegiatan yang merongrong pemerintah Indonesia saat itu. Mereka melakukan pemogokan Рpemogokan  dan memancing Рmancing bentrokan. Rapat Рrapat yang menentang Pemerintah di adakan di Sumatra. Kegiatan kaum komunis meningkat sesudah kembalinya Musso dari Uni Soviet. Pemimpin komunis yang telah puluhan tahun berada di luar negeri itu segera menghimpun kekuatan kaum kiri. 

Bentrokan – bentrokan bersenjata terjadi antara pengikut – pengikut Musso dengan TNI di Solo. Sebagai lanjutan dari bentrokan itu pada tanggal 18 September 1948 Madium direbut oleh orang – orang komunis. Dengan peristiwa itu mulailah pemberontakkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pemberontakan komunis membahayakan kehidupan Republik Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945. Dalam pidatonya tanggal 19 September 1948 Presiden Soekarno menyuruh rakyat memilih antara Musso dan Soekarno Hatta. Pidato itu segera di jawab oleh Musso yang mengajak rakyat menghancurkan negara Republiki Indonesia yang di pimpin oleh Soekarno – Hatta.

Dengan demikian pecahlah pemberontakn PKI di Madium. Pemberontakn komunis di bawah pimpinan Musso membakar, membunuh, mengadakan pembantaian besar – beasaran secara biadab diluar perikemanusiaaan.

Alangkah kejam dan liciknya mereka, rakyat sedang menghadapi Belanda yang ingin menghancurkan negara proklamasi yang berpancasila, mereka menusuk dari belakang, menghancurkan negara pancasila untuk diganti dengan negara komunis.

Namum, rakyat bersama ABRI dapat menghancurkan pemberontakan PKI, pemimpinnya berhasil di tangkap dan dijatuhi hukuman mati. Hancurlah komunis, dan Negara Proklamsi tetap jaya.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesia, sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *